Saturday, July 21, 2012

kubangan 3 Kepunahan Spesies jilid Satu


Kepunahan Spesies jilid Satu

Hari ini, lo tau saya presentasi biologi lingkungan depan kelas, tema-nya hujan asam, dan lo tau fakta baru apa yang ilmuan gak tau dan saya dengan terang2an berargumen depan kuliah, bahwa ternyata kadar hujan yang sifatnya asam berlebih, bukan rasanya asam lho (bego’!), emang ujan keringet ketek, kan engga mungkin. Jayus itu namanya. :p. itu meningkatkan efek virus galau yang sering terjadi pada remaja, Bahkan orang dewasa dan anak2 sekalipun.
Iya seriusan, ternyata kadar  SO2 di udara itu berdampak langsung terhadap tingkat ke-galau-an remaja jaman sekarang, termasuk dulu jaman revolusi industri tu banyak juga ilmuan2 galau kaya Schwan dan Schleiden yang ternyata saya indikasikan temen satu TK, dulunya. Bahkan dekat kepada kakak-adek, coba lo liat kata depannya sama2 ada huruf “SCH-“ kan? (ini pelajar dodol Avogadro, artinya, dodolnya dodol.)
Setelah itu, ada yang presentasi lagi, nah ini yang menarik, kelompok saya selesai, kelompok lain maju dengan tema, kepunahan mahluk hidup.
Gila!, itu bahasan paling asik menurut saya pagi itu. Setelah mereka jelasin semua hal tentang  kepunahan, yang di sebabkan meteorit lah, Jurrasic apalah, yang bikin dino punah lah, ahhh.. pokoknya bagi saya itu boong semua, apa? Dino itu masih sering tampil di “jalan sesama” juga (apa itu Cuma penampakan ya?) beneran saya gak bisa mbedain..
Nah.. tiba gilirannya saya Tanya, dan biasanya kalo saya ngacungin tangan tinggi2 pasti dicuekin dan di jadikan opsi terakhir kalau gak ada yang tanya lagi,  tau kenapa? Karena pertanyaan saya aneh2.. gak percaya, nih contohnya pas ada yang presentasi tentang global warming, saya bilang, “ah..global warming, issuenya itu udah gak eksis,basi tau gak lo?, lo tau film the day after tomorrow?, ice 2020? Bener gak sih itu? Coba lo jelasin, artinya kalo siklus kita kembali ke zaman es itu ada, bukan berarti kita Cuma buang2 waktu dan duit buat mencegah global warming, mending kita ciptain pesawat kya di Wall-E itu buat sementara pergi untuk mengindari zaman es itu (hahaha),  toh kalau issue itu gak bener, sekarang kadar CO2 katanya, itu udah berkurang gara2 kita nanem 1000 pohon, 2011 pohon, 2012 pohon, ckckc (Cuma beda satu pohon doang bego’!). Nah itu sedikit banyak mengurangi global warming tau, bayangin kalo satu desa 1000, seluruh Indonesia, seluruh dunia itu barapa pohon yak..??.
Oya ada temen saya sebut saja namanya monalia, si mona ini doyan banget ngupil di depan umum, dan setiap kali saya protes, treak2 ke die.. tiap kali juga die bilang; “idung2 saya, tangan2 saya..” dan akhirnya saya ancam kebiasaan buruk die akan saya sebarin,.. biar dunia tau ada anak cewe yang cueknya dunia akherat, sampai gak perduli ama tingkah polah die yang saya rasa merugikan saya dan spesies die.. haha. Ini bagian dari dendam saya, maksudnya biar lo semua tahu ada orang yang merasa gak nyaman dengan, ya, terkadang tindakan yang mereka rasa gak ada hubungannya sama orang lain. (ni kenapa bahasannya sampe “ngupil” segala ya…? ). Iyalah, saya kan lagi dendem, ni… saya pinjem laptopnya buat ngetik (parah).
Kembali pada KEPUNAHAN MAKHLUK HIDUP, saya Tanya ke tu kelompok (akhirnya saya bisa Tanya juga), nah  gimana ceritanya kalau ada satu spesies yang dia itu kampungaaaan banget, udah gitu An-Sos lagi, gak ada hubungan dengan rantai makanan dan lingkungan sekitar, dia Cuma makan tanah bro(lo jangan bayangin ni spesies macam apa?) . Artinya kalau spesies itu mati, gak ada efeknya ke lingkungan,  istilahnya itu hewan di lingkungan sekitarnya aja bilang; “ah bodo amat die mau mati, nyapa saya yang lewat depan sarangnya aja gak pernah, ogah ah saya bantuin ngubur ame mandiin jenazahnya.. an-sos gitu sih hewannya.. “. Berarti ini bukan masalah besar untuk ekosistem kita kan?, so apa sebegitu besar masalah kepunahan kita? , coba yakinkan kami deh,.. itu pertanyaan sarap jilid satu.
Selain itu, kan akhir2 ini ada tuh temuan anak mammoth di es kutub membeku (ya iyalah), dan itu utuh, dan ilmuan berjanji akan  melahirkan kembali tu mammoth dengan perantara gajah. Berarti issue kepunahan bisa di tanggulangi dengan cloning atau kultur jaringan atau apalah hewan yang hampir hamper punah kayak misalnya tinggal 3 ekor di muka bumi ini, nah di ambil tu selnya trus di cloning dah.. tara.. jadi banyak.itu lho macam domba doli-dolian itu. Atau kalau gak di fotokopi aja tu spesies langka.  Kan murah. 100 dapet satu.kakakaka…  Itu pertanyaan bego’ jilid dua.
Tapi sebego2’nya pertanyaan seseorang, seorang calon guru yang baik harusnya  mengapresiasi semua pertanyaan muridnya bahkan sebego’ apapun pertanyaan itu. Harus ada apresiasi untuk keberaniannya untuk bertanya, dan curiousitynya dia, sehingga ada kemauan dia untuk bertanya. Tapi, kalau saya sih , menggolongkan orang yang Tanya itu jadi 3, satu dia emang bener2 gak tau. Dua, dia ngetes, dan tiga dia nyari perhatian. Dan saya gak ngetes apalagi gak tau tuh,. Haha.
Oke akhirnya mereka bilang kalau matinya satu spesies aneh yang saya sebutin tadi, mungkin gak berdampak langsung ke ke-eksisan idup kita(manusia).  Tapi kata ilmuan, kalau kita kehilangan satu spesies saja, sama aja kaya kita kehilangan buku di perpustakaan bahkan sebelum kita baca. (ini ilmuan satu ini gak pernah makan tempe kali yak?.) spesies langka Cuma kanya buku di perpus… ckckc.. saya aja ngilang2in banyak  tu buku perpus. Dia itu lebih berharga  tau, kaya orang yang lagi boker tapi gak ada aer, se penting iotu kok kita butuh makhluk hidup langka. Coba lo bayangin anak cucu kita besok udah gak pernah liyat ayam kate, gara2 udah punah, kecuali di gambar. Kasian kan?. Itu gara2 kita lho (apa hubungannya ama boker?). Haha.
Akhirnya dosen  itu turun tangan, dia dengan statemen “tuhan itu tidak menciptakan sesuatu makhluk tanpa suatu manfaat apapun”.  Artinya bersyukurlah manusia sebagai makhluk omnifora (lho?), coba lo bayangin dong makhluk2 nyang monofak (makan satu jenis produser atau bahan makanan) gimana kalau makanannya punah, Dia makan apa?. Kaya panda, dia Cuma makan bamboo, coba kalo bamboo punah, dia makan apa?. Saya nyletuk, oke pak, kita ajarin si panda makan nasi!. Hahaha, masalahnya gak mungkin dong saya ngajarin panda makan nasi sendirian, saya butuh lo semua untuk ngajarin mereka.
Jadi kalo kita bikin skema begini:
Produser (bukan produsen; sesat ini mah) à konsumer Ià konsumer IIàkonsumer III.
Nah kalo konsumen tingkat 3 aja yang mati mungkin gak ada efek keatas, tapi bayangin kalo produser mati, punah, otomatis mati semua kan?. Jadi kadang kita itu harus berhenti sejenak berfikir tentang manusia, tentang saya. Tentang perut. Pikirin juga elemen di sekitar kita yang nantinya ada efek juga ke kita pada akhirnya sebagai penghuni bumi.  Bumi kita ni atu atunya lho.
Jadi mending tu yang mati itu konsumer puncak, udah,  saya terus terang aja.. manusia. Lebih baik begitu kata dosen saya. Byangkan. Manusia itu sudah terlalu banyak. Dan sumber daya akan terus berkurang. Apa yang bisa kita lakukan?. Menunggu sampai sumberdaya itu habis?. Atau berebutan dalam mengambilnya. Yang akhirnya kearifan2 itu luntur seiring bergulirnya waktu. Saya katakan, salah satu penyebab  kerusakan lingkungan yang saya analisis dari mata kuliah pengetahuan lingkungan adalah, ledakan penduduk.  Semakin banyak penduduk, semakin banyak sumberdaya yang kita pakai, semakin banyak emisi dan belum tentu semakin banyak rezeki.  Bayangkan kalau sertiap keluarga mempunyai anak 10 biji. Akan ada kewajiban memberi makan 10 orang, berapa banyak lahan pertanian yang kita punya?. Akan ada 10 motor(kalau mampu) dan bayangkan emisi karbon dst dst yang akan di ekstraksi. Akan ada kebutuhan makan daging lebih banyak (lho2), dan berapa banyak lagi amoniak yang akan kita keluarkan ke atmosfer untuk merusak ozon kita?. Dan belum tentu ada 10 ide cemerlang untuk menanggulangi kerusakan lingkungan itu. Setau saya, negara yang bayak penduduknya identik dengan negara yang angka kemiskinannya cukup tinggi. Umpek2an, dst. Jadi saya pernah dengar seorang yang menafikan hal ini di depan khalayak kurang lebih begini, “kalau ada anak 10, dan semuanya berkualitas?!, sangat tidak benar sekali billboard disana, yang tulisannya “ledakan penduduk; bertindak sekarang (KB) atau menunggu bencana!”.
Saya rasa ada benarnya untuk di anjurkan punya anak dua, dan tidak perlu marah atau malah menghujat iklan layanan masyarakat seperti itu dengan nada tinggi. Saya menghargai keinginan anda mempunyai anak banyak, saya pun begitu.  Namun segera pastikan kualitasnya itu.


Visitors

BUKU TAMU

Pop up my Cbox
Powered by Blogger.

Follow by Email

Followers