Friday, July 15, 2011

Hati II

Hati II
Subuh dan keruh selendang kabut
bukan sebaris tembok tinggi sepagi itu
yang menghambur melahap tujuku

Kulihat bulan sebiji kuku malam lanjutnya
Melengkungkan keningnya disamping Randu
Semburatnya tak sempat memantul lantai persawahan
Dan semakin meragu di tepian kubangan hatimu

Aku jujur meragukanmu
Meragu sehelai dua hatimu
yang tercecer dekat pematang mata kakimu
Dan sehelai lagi tergantung di ladang sukmamu
Aku kembali meragukan kedatangan senja biru itu
Meragukan semilir punggung panggung pertunjukan angin itu
Kemudian tak lama menguap melaju biru laut anganmu

Aku kembali meragukan merah hitam malam hujan matamu
Hati yakinku hanya sasar mampir di berandamu
Menanyakan kepemimpinan gubuk hatimu


28 juni 2011
Fauzisar el lambunjiy


Putih I

Putih I
Bada isya’
Dan bulan mulai memintal
kabut di sekelilingnya
Adalah selendang yang ditingkahi
ributnya getir samudra dan renda angin
Sampai subuh nanti
biasnya diteruskan hingga ujung ujung
Kamboja yang menahan diri menarik
keluar kuncup yakin bunganya

O, lingkaran diatas malam itu
Berobah
Menjatuhkan pendarnya
Sementara berlapis lapis langit di bawahnya
Bertasbih berbiji biji
Dan putihnya hanya berkelebat pergi dari
Tiap ubun ubun
Sama, kecuali tanpa bekas

Jogjakarta, 16 mei 2011
Fauzisar el lambunjiy

Kubangan takdir

Hatiku pada cemong selat takdir
Diombang-ambingkan garam lautnya
Mengingat rapuhnya malam itu
Kubangan takdir sama tiada berkaca
kecuali berbalas gelap

Seiyanya mataku tak pernah
meratap matahari pecah
di lalap ujung ujung nyiur kelapa senja
Aku tau airnya hanya membendung
Kemilau adek bintang, kakak bulan
yang akhir pekan ini tiada tegak di awan awan
lapang rebah takdirku

Hatiku diatas perjalanan nadir
Sementara hidungku menangis
mengeja sebagian biji menanjak bingkai grafitasi
Tumbuh mengakar diatasnya
Namun tiada kecewa sebiji kuku pun
Karena bulanku tak pernah sendiri mengabarkan malam..

Selat sunda, 30 juni  2011
Fauzisar el lambunjiy

Thursday, July 14, 2011

Tepi jalan kecil

Di tepi jalan malamku
Di tengah bola duniaku
Di persimpangan jalan takdirku
Di atas kelopaknya
aku mengadu…
Kembali menengok hampar tanah rantau
Tanpa semilir lambaian tangan itu

Berkutat dengan kubanganku
Sementara ekorku berias ria
Dia atas balkon takdirnya
Bersenggama dengan tangis takhluk jajahnya
Bertemu di ujung jalan kecil

Jalan yang kita tiada pernah tau
suanya

Aku sadar ini permainan gemerincing
rina kampung kumuh adilnya kerlip duka
Namun gelapnya
kita tak pernah tau
Ya, jalan gelap tanpa percaya
yang sekadar percaya..

selat sunda, 30 juni 2011
Fauzisar el lambunjiy

Visitors

BUKU TAMU

Pop up my Cbox
Powered by Blogger.

Followers